Aku Dalam Cermin

“Kau yang membunuhnya!”

Aku menatap bayanganku yang terpantul di cermin. “Tidak, aku tidak membunuhnya!” bantahku.

Bayanganku di cermin balik menatapku. “Kau tahu aku benar,” katanya sambil menyeringai.

“Itu kecelakaan. Mia terpeleset di tangga sekolah. Semua orang tahu itu,” aku masih mencoba membantah. Pemandangan itu terulang di benakku. Mia tergeletak di dasar tangga. Matanya terbeliak. Lehernya tertekuk ke arah yang salah.

“Itu memang yang diketahui semua orang. Tapi tidak ada yang tahu kau berdiri tepat di belakangnya,” bayanganku masih menyeringai menatapku. Tatapannya melecehkan. “Hanya aku yang tahu itu,” tambahnya.

“Lalu kenapa jika aku ada di belakangnya?”

“Kau mendorongnya,” sahutnya. Matanya menatapku tajam. “Dia tidak jatuh dengan sendirinya, kau tahu benar itu,” tambahnya.

Aku menggeleng kuat-kuat. Tuduhannya menyakitkanku. Tapi aku tidak terlalu yakin. Mungkin saat di tangga itu, aku memang berdiri terlalu dekat dengannya.

“Kau membencinya. Kau iri padanya.”

“Mengapa aku harus iri padanya?”

“Mia mendapatkan Tom. Tom, satu-satunya cowok yang sangat kau sukai. Kau cemburu. Kau berharap dia tidak ada, sehingga Tom bisa kau dapatkan.”

“Tidak, kau salah!” bantahku, nyaris berteriak. “Aku memang menyukai Tom. Tapi aku terlalu malu untuk menunjukkannya. Mia pantas mendapatkan Tom. Dia cantik, pintar, pandai bergaul…” suaraku menghilang. Sedikit menyakitkan mengakui kelebihan Mia.

“Ya, tapi kau tahu kan, Mia bahkan tidak menyukai Tom. Dia hanya mengejar cowok itu karena dia tahu kau menyukainya,” bayanganku terkekeh mengejek.

Aku membuka mulutku, berusaha membantah. Tapi tidak ada kata yang keluar. Aku tahu semua yang dikatakan bayanganku benar. Mia hanya menggodaku. Dia mengejar Tom hanya untuk menunjukkan padaku kalau dia bisa mendapatkannya.

“Mia senang mengganggumu kan? Baginya, kau hanya mengganggu pandangannya. Gadis yang tidak menarik, pendiam, pemurung. Benar-benar berbeda 180 derajat darinya. Kau menyedihkan!” seru bayanganku tanpa kenal ampun.

Aku menutup telingaku. “Hentikan!”seruku. Mataku terasa pedih. Sekuat tenaga aku berjuang agar air mataku tidak mengalir.

“Sore itu saat kau lihat Mia berdiri di ujung tangga. Hanya sendirian, tidak ada orang lain di sekitarnya. Kau tidak bisa melewatkan kesempatan itu. Dengan tega, kau mendorongnya!”

“Tidak!!” suaraku terasa serak karena menahan tangis. “Aku hanya menyentuh bahunya. Dia terkejut, sehingga terpeleset dan jatuh. Percayalah, itu yang sebenarnya terjadi…” pintaku dengan suara lemah. Bahkan aku sendiri menganggap bantahanku tidak terlalu meyakinkan. Mungkin sentuhanku terlalu kuat. Atau mungkin apa yang dikatakan bayanganku benar.

“Kau tidak hanya menyentuh bahunya, kau mendorongnya! Akuilah! Kau bahkan melakukannya sambil tersenyum. Kau tidak punya hati! Kau tidak berperasaan!”

“Hentikan!!” seruku. Pertahananku tumbang. Aku merasakan sebulir air mata mengalir di pipiku, diikuti oleh bulir-bulir lainnya. Perlahan aku terisak. “Mengapa kau begitu jahat? Teganya kau menuduhku seperti itu!”

“Aku jahat? Tidak, kau yang jahat. Mengapa? Karena bukan aku, tapi kau yang membunuhnya!” bayanganku tertawa mengejek. “Kau pembunuh!!” jarinya terangkat, menuding padaku, sebelum berbalik dan beranjak meninggalkanku.

“Hei, tunggu! Jangan tinggalkan aku! Hei!” seruku. Tanganku memukul-mukul permukaan cermin. Berusaha mencari jalan keluar. Tapi tidak bisa. Aku terjebak di sini, di dalam cermin. Hei, dia bukan bayanganku. Aku lah sang bayangan. Aku tidak membunuh Mia, dia yang melakukannya. Dia menyalahkanku atas perbuatannya. “Keluarkan aku dari sini!” pukulanku pada permukaan cermin semakin kuat. Aku harus menghentikannya. Sebelum dia membunuh orang lain lagi, aku sendiri yang akan membunuhnya.

Note: dibuat untuk Modul #6 Kelas Novel Dasar Online


9 thoughts on “Aku Dalam Cermin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s