Cinderella: The Other Story

Note: dibuat untuk Modul #4 Kelas Novel Dasar Online. Modul ini tentang plot, makanya dibuat per bagian seperti ini.


Bagian I: Kabar tentang pesta dansa di kediaman Sang Bangsawan

Cinderella termenung menatap surat kabar di tangannya.  Di situ tertulis berita tentang pesta nanti malam yang diadakan Tuan Nicholas, bangsawan terpandang dan terkaya di kota ini. Pesta itu dibuat untuk merayakan ulang tahun putranya, Josh, yang menginjak usia 25 tahun, sekaligus untuk mencarikan pasangan bagi anak semata wayangnya itu. Karena itu, seluruh gadis lajang di kota itu diundang untuk menghadirinya.

Cinderella pernah bertemu dengan Josh lima tahun yang lalu, saat dia pergi ke pusat perbelanjaan di kota bersama ayahnya. Waktu itu Cinderella baru saja berulangtahun ke-17. Ayahnya lantas membawanya ke kota, untuk memilih sendiri hadiahnya. Saat itu Josh baru keluar dari penjahit kenamaan yang biasa membuatkan pakaian para bangsawan. Dia berjalan menuju mobilnya diiringi dengan dua orang pengawalnya. Josh sangat tampan, bermata biru dan berambut pirang keemasan. Cinderella tidak bisa melupakan wajah itu. Gadis muda itu langsung jatuh cinta padanya.

Bagian II: Ibu & saudara tiri Cinderella yang datang setelah ayahnya meninggal

Semua itu membuatnya teringat akan ayahnya. Orangtua satu-satunya itu meninggal setahun yang lalu. Cinderella sangat menyayanginya dan merasa sangat kehilangan. Hanya seminggu setelah ayahnya meninggal, datang seorang wanita yang mengaku sebagai istrinya. Wanita itu berasal dari kota seberang, kota yang biasa didatangi oleh ayahnya saat berdagang. Hati Cinderella hancur, dia tidak menyangka ayahnya akan mencintai wanita lain selain ibunya. Mengapa ayahnya tidak pernah bercerita apapun padanya?

Wanita itu, ibu tirinya, membawa serta anaknya. Gadis yang sebaya dengan Cinderella. Rambut ikal pirang serta bulu mata lentik yang menghiasi sepasang mata biru cerahnya, membuatnya terlihat seperti boneka yang sangat cantik. Kakak tirinya itu bernama Marianne.

Berbeda dengan Cinderella yang pendiam dan pemurung, Marianne sangat lincah dan ceria, membuatnya disukai para tetangga atau relasi ayahnya yang datang berkunjung. Satu hal yang mereka tidak ketahui adalah, kakak dan ibu tirinya itu sering meremehkannya, memperlakukannya dengan seenaknya. Cinderella sering disuruh membersihkan rumah dan ibu tirinya akan mengamuk jika ditemukan masih ada debu walaupun sedikit. Marianne sering menyuruhnya mencuci pakaiannya dan membersihkan kamarnya.

Bagian III: Persiapan untuk pesta dansa

“Cinderella!!”

Seruan itu mengejutkan Cinderella. Surat kabarnya dilemparkan begitu saja. Bisa gawat kalau dia tidak segera datang jika dipanggil.

Sedikit terengah-engah, Cinderella memasuki kamar Marianne. Dilihatnya, kakak tirinya itu sedang mencoba sehelai gaun berwarna biru. Di sekelilingnya, di atas kasur dan di lantai, bergeletakan gaun-gaun lainnya. “Ada apa, Marianne?” tanyanya pelan.

“Bantu aku dengan gaun ini!” sahut Marianne dengan nada yang lebih mirip memerintah daripada minta tolong.

Cinderella mendekat, menutup resleting di punggung dan merapikan lipatan-lipatan gaun itu. Marianne lalu mematut-matut diri dengan senang di depan cermin.

“Kamu mau ke mana, Marianne?” Cinderella memberanikan diri untuk bertanya.

“Pesta di kediaman Tuan Nicholas kan malam ini. Aku harus tampil cantik, lebih cantik dari biasanya,” sahut Marianne, lalu berputar menghadap Cinderella. “Bagaimana menurutmu?”

Cinderella menatap iri pada kakak tirinya itu. Warna biru di gaun yang dikenakannya membuat kemilau matanya semakin indah. Dengan terpaksa diakuinya, “Kamu cantik…”

“Oh, itu sudah pasti!” Marianne terkekeh senang. “Ya sudah, pergi sana! Jangan lupa untuk membereskan rumah ini! Pel lantainya sampai mengkilap! Bersihkan semua perabotan, jangan sampai ada debu sedikitpun!”

Cinderella terkesiap. “Tapi pesta dansa malam ini…”

“Hei, kamu tidak terpikir untuk hadir kan? Ibu pasti tidak akan memperbolehkanmu. Lagipula, lihat saja dirimu!” Marianne menunjuk cemong di muka Cinderella, bajunya yg lusuh dan rambutnya yang kusut. “Kamu tidak mau mempermalukan dirimu sendiri kan?” dia lalu tertawa mengejek.

Cinderella berlari ke kamarnya. Dia merasa terhina. Tidak ada yang berani memperlakukannya begini saat ayahnya masih hidup. Dia ingin pergi ke pesta itu. Dia harus pergi ke pesta itu.

Bagian IV: Pesta dansa

Malam itu, saat Marianne dan ibu tirinya pergi ke pesta dansa, Cinderella mengawasi dari jendela dengan diam-diam. Tekadnya sudah bulat. Dia berlari menuju kamarnya, di mana dia menyimpan peti berisi barang-barang peninggalan ibunya. Dari situ, diambilnya sehelai gaun indah berwarna putih keperakan. Dikenakannya gaun itu. Disisirnya rambut hitam panjangnya. Dia lalu tersenyum. Ternyata gadis cantik itu selama ini masih ada, hanya tersembunyi di balik debu dan kumal pakaiannya. Sekarang tinggal sepatunya. Cinderella tidak mempunyai sepatu yang pantas untuk dikenakan dengan gaunnya. Dia lalu teringat pada koleksi sepatu Marianne. Dipilihnya sepasang yang juga berwarna putih keperakan. Sangat serasi. Dari lemarinya, diambilnya sebuah topeng pesta yang pernah dikenakannya pada pesta kostum yang dulu dihadirinya. Cinderella tidak mau mengambil resiko dikenali oleh kakak dan ibu tirinya.

Cinderella bercermin untuk terakhir kalinya sebelum pergi. “Tunggu aku, Pangeranku,” bisiknya senang.

Pesta dansa di kediaman Tuan Nicholas kali itu mengundang kehebohan. Josh, sang tuan muda, tampak asyik berdansa dengan seorang gadis misterius yang mengenakan topeng pesta. Semua mata memandang pada gadis itu dan gaun keperakannya yang melambai indah, sesuai irama tari mereka. Josh tampak terpesona pada gadis yang baru dikenalnya itu.

Cinderella sangat senang. Dia berhasil datang ke pesta dansa itu dan berdansa dengan Josh. Dia bisa melihat tatapan iri gadis-gadis lain. Tapi tidak ada yang lebih membuatnya puas selain tatapan Marianne. Sedih, marah dan cemburu bercampur jadi satu dalam matanya. Cinderella sangat menikmatinya.

Tiba-tiba terdengar lonceng jam di menara tengah kota, menandakan waktu tengah malam. Cinderella tersentak. Dia masih sangat ingin berada di sini, tapi dia harus segera pulang. Jika tidak mau ketahuan, dia harus ada di rumah sebelum kakak dan ibu tirinya tiba. Tergesa, ditinggalkannya Josh.

“Hei, tunggu! Aku belum tahu namamu!” seru Josh, berusaha menahan gadis yang telah menarik hatinya.

Tapi Cinderella telah pergi. Di tangga beranda, hanya tertinggal sebuah sepatu keperakan yang tadi dikenakannya. Josh mengambil dan mengamatinya. “Aku pasti akan menemukanmu,” katanya pelan.

Bagian V: Pencarian Sang Putri

Keesokan paginya, dengan lega karena aksi semalamnya tidak ketahuan, Cinderella pergi ke kota untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dilihatnya hampir setiap orang bergerombol sibuk membicarakan sesuatu.

“Tuan muda Josh hendak mencari pasangan sepatu yang ditinggalkan oleh gadis semalam. Katanya dia akan menikahi si gadis. Wah, Tuan Muda benar-benar jatuh cinta ya?” ibu pemilik toko bahan pokok memberitahunya.

Cinderella terkesiap. Sepatu yang dipakainya semalam adalah milik Marianne. Jika Josh menemukannya, maka dia pasti akan menikahi kakak tirinya itu. Tidak ada yang akan percaya kalau Cinderella lah gadis dari pesta dansa semalam. Marianne dan Josh akan jadi pasangan yang serasi, dengan rambut pirang dan mata biru mereka itu. Cinderella tidak akan membiarkan kebahagiaan yang nyaris diraihnya itu menjadi milik kakak tirinya. Dia harus berbuat sesuatu. Terburu-buru, dia melangkah pulang.

Bagian VI: Cinderella dan Pangeran pujaannya

Saat rombongan Josh memasuki pelataran rumahnya, Cinderella baru saja melangkah masuk dari kebun kecil di halaman belakangnya. Sekop dan pisau yang tadi digunakannya, telah dibersihkan. Dengan penuh semangat, dia menunjukkan pasangan dari sepatu yang dibawa oleh salah satu pengawal Josh. Josh pun melangkah maju, menyambut gadis pujaannya.

“Aku belum tahu namamu,” kata Josh.

“Cinderella,” jawab Cinderella sambil tersipu. Josh tampak lebih tampan dari yang diingatnya semalam.

“Cinderella, maukah kau menikahiku?”

Senyuman bahagia terlintas di wajah Cinderella. “Tentu saja, Josh!” sahutnya senang.

Bergandengan tangan, mereka berjalan beriringan menuju mobil Josh yang hendak membawanya ke kediaman Josh di kota.

“Omong-omong, kau hanya tinggal sendiri di rumah itu, Cinderella?”

“Hm, hanya bersama dua ekor tikus pengganggu yang baru saja kubunuh dan kukubur di halaman belakang…”

9 thoughts on “Cinderella: The Other Story

  1. hahaha sudah kuduga pasti ini endingnya bunuh2an😆 ternyata beneran!

    pas kalimat: Hati Cinderella hancur, dia tidak menyangka ayahnya akan mencintai wanita lain selain ibunya. Mengapa ayahnya tidak pernah bercerita apapun padanya?

    itu kalimat kenapa jadi sinetron banget ya? hehehe… untung sampe akhir gak seperti scene di sinetron😀 bagus kei.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s