Sang Vampire

Kastil itu tampak mencuat dilatarbelakangi langit malam setelah berbelok melewati pohon pinus yang berdiri rapi layaknya pasukan serdadu yang sedang upacara. Bulan terlihat merah dari sela dedaunan runcing. Kulambatkan laju mobil saat memasuki pekarangannya. Pagar besi yang dulu berdiri kokoh terkulai miring kehabisan tenaga. Sekumpulan karat telah menguasai permukaannya.

Setelah meninggalkan mobilku sendirian, aku menaiki tangga menuju teras. Semilir angin dingin menyegarkan tubuhku setelah berkendara dari tadi. Lolong anjing hutan lamat-lamat terdengar. Cocok sekali dengan suasana malam ini. Langkahku terhenti di depan pintu kayu yang keropos dimangsa keganasan waktu. Masih tampak sedikit sisa-sisa keangkuhan masa lalunya. Berhati-hati, pintu itu kudorong membuka.

Aku disambut udara apak dan masam yang menyerang mata dan tenggorokanku. Ruang kosong berdebu serta sebaris tangga melingkar tampak di hadapanku. Seperti yang telah diinstruksikan padaku, aku pun melangkah menuju tangga. Pandanganku menyapu sekitar. Diterangi nyala remang perapian, aku bisa melihat dinding kusam dan sarang laba-laba di beberapa sudut. Semua menunjukkan usia yang telah dilalui kastil ini.

Tangga berderit pelan menahan beban tubuhku saat kunaiki tiap anaknya. Kepulan debu menghempas dari karpet lusuh yang melapisinya. Persis seperti deskripsi di surat yang kuterima, dari ujung tangga, aku melihat pintu yang terbuka lebar, menuju kamar sang tuan rumah.

Kamar Sang Vampire.

Itu menurut warga desa. Tuan Williams, pemilik kastil tua di pinggir hutan, adalah sesosok makhluk abadi yang menjadikan darah sebagai penyambung hidupnya. Tidak ada yang pergi ke sana bisa kembali lagi dalam keadaan bernapas. Saat pertama mendengarnya, aku sempat penasaran. Tapi lama-lama, semua omongan itu hanya gema yang diucapkan berulang-ulang dengan kata-kata nyaris sama sehingga membuatnya kehilangan makna. Bagai celoteh burung kakaktua kepunyaan Tuan Adams, pemilik toko obat, yang menyapa tiap pengunjung yang datang dengan kalimat yang itu-itu saja. Menyenangkan pada awalnya, tapi membosankan jika sering didengar. Bagiku, berada di jalan pinggir kota di mana gelandangan dan berandalan berputar mengitari mangsa untuk dikeruk hartanya, lebih menggentarkan dibanding berada di kastil tua yang gelap dan berdebu. Tapi sepucuk surat yang diantarkan seorang anak kecil pagi ini membangunkan rasa penasaran yang telah lama lelap. Tuan Williams sedang sakit dan memintaku untuk datang. Surat itu merupakan alasanku untuk mengunjungi kastil tua itu dan mengenyangkan rasa ingin tahuku.

Kayuhan langkahku terhenti sesaat kala kudengar suara mendesau memanggil namaku.

“Silakan masuk, Dokter Winchester!”

Aku maju dan menemukan sesosok tubuh tua teronggok di kursi dekat jendela. Kulitnya pucat dan keriput, rambutnya putih beruban. Dia akan kusangka semacam mumi, jika matanya tidak membuka dan menatapku.

“Kau benar-benar datang, Dokter,” sapanya dengan susah payah. Seakan sudah bertahun-tahun dia tidak pernah memakai suaranya. “Apakah kau tidak tahu, atau kau memang bodoh?”

Aku agak tersinggung mendengarnya. “Maaf?”

“Kau tentu telah mendengar apa yang dikatakan penduduk desa tentang aku, bukan?”

“Dengan segala hormat, Tuan, aku hanya memenuhi kewajibanku sebagai dokter. Surat Anda mengatakan bahwa Anda membutuhkanku.”

Tubuh tua di hadapanku terbatuk dan terguncang. Aku mengernyit, lalu menyadari bahwa dia hanya tertawa.

“Tak apa, tidak usah ditutupi. Kau boleh mengatakan kalau sebagian alasan kau datang ke sini karena kau penasaran,” ujarnya. “Sebelum kembali ke desa kelahirannya, pelayan setiaku mengupah seorang bocah untuk mengirimkan surat padamu. Aku tahu, jika aku beralasan sakit, kau pasti datang…” Dia menghela napas, mengumpulkan kekuatan sebelum bertanya, “Kau tahu berapa umurku, Dokter?”

Dahiku berkerut, tidak menyangka akan diajukan pertanyaan seperti ini. Kuperhatikan baik-baik tubuh rentanya. Jari-jari panjang dan kurus dengan kuku tajam dan kotor, mengingatkanku pada ranting pohon di musim gugur. Rambut putih panjangnya tidak terurus, hidungnya bengkok, bibirnya kering dan pecah-pecah bagai tanah saat kemarau panjang. Matanya berkabut, menatapku dengan cahaya yang nyaris pudar. Semua yang ada padanya mengisyaratkan sesuatu yang kuno. Gemerlap kehidupan seakan meninggalkannya untuk menua dan mati perlahan. Perasaan yang sama seperti saat kau melihat jejeran nisan di pemakaman; sepi dan terlupakan. Aku membasahi bibirku, tidak yakin angka mana yang harus aku keluarkan untuk menjawab pertanyaannya.

Dia terkekeh parau, tampak senang karena aku kesulitan menjawab kuis kecil-kecilannya. “Dokter Winchester, umurku sudah ratusan tahun!”

Aku berjengit. Mulutku kubuka, siap menyuarakan ketidakpercayaan. Tapi jari-jari kurusnya terangkat perlahan, membuatku mengatupkan mulutku kembali.

“Kau tahu, Dokter? Omongan teman-temanmu di desa benar.” Dia menggelengkan kepala rapuhnya. “Tapi aku sudah letih…”

Aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Kenyataan yang baru diproses otakku memakan kemampuan berbicaraku. Jadi orang tua ini mengakui dirinya vampire? Tapi dari cerita-cerita khayalan yang kubaca, vampire hidup abadi. Dia tidak bisa menua, tidak seperti tubuh renta di hadapanku sekarang. Mungkin akal sehatnya telah luruh ditelan debu dan kesuraman kastil ini.

Seakan bisa membaca pikiranku, pemilik kastil itu mengangkat tangan kanannya. “Kau belum bisa percaya jika bukti belum terhidang di bawah hidungmu, bukan?” ujarnya sambil menorehkan kuku tajam pada nadi pergelangan kiri. Kulit kusutnya terkoyak, tapi kucuran merah darah segar absen dari lukanya.

Kata-kata seakan terbang meninggalkanku. Aku ternganga. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa darah. Berarti benar dia ini bukan manusia?

Terlihat puas menikmati reaksiku, ia melanjutkan pembicaraan. Suaranya berkeretak bagai potongan kayu terbakar api unggun. “Sudah lama sekali sejak aku kehilangan gairah untuk hidup abadi. Semua orang berpikir, keabadian sangat menyenangkan, sesuatu yang diidam-idamkan. Tapi sesungguhnya itu sangat menyedihkan. Sepi dan sendiri. Kau tidak bisa mencintai siapa pun karena kau pasti akan ditinggal mati. Pada akhirnya, apa yang jadi sisa dari hatimu, terenggut oleh kesedihan, dan kau tidak akan bisa merasakan apa pun lagi. Letih… Lelah… Tapi tak peduli berapa lama pun aku menunggu, kematian tidak akan pernah menghampiriku. Aku hanya melemah, menua, membusuk, apa pun selain mati.” Sepasang matanya memaku mataku. “Aku hanya ingin semua ini berakhir, Dokter.”

Kesedihannya yang tulus menulariku. Mengalir dari alunan suaranya, merasuki ujung rambut dan  permukaan kulit, untuk lalu membanjiri seluruh sendiku. Vampire di hadapanku ini tidak berbahaya, dia hanyalah seorang malang yang diterpa badai penderitaan lebih dari yang bisa ditelannya. Aku mengerti rasanya ditinggalkan. Lima tahun lalu kekasihku meninggal karena sakit. Butuh waktu cukup lama bagiku untuk menghapus gambarannya dari tiap sudut hati dan pikiranku. Karena itu, sedikitnya aku bisa membayangkan betapa sakitnya tercabik perlahan selama ratusan tahun. Akal sehatku yang menolak mengakui omongan penduduk desa dikalahkan oleh rasa iba. Entah bagaimana, aku percaya dan bersimpati pada vampire tua ini.

“Anda yang memanggilku ke sini, Tuan Williams, apa yang bisa kulakukan untuk Anda?”

Telunjuknya yang bersalut kulit pucat dan keriput menunjuk ke arah perapian, pada besi pengorek yang bersandar di sana. “Aku yakin kau pasti telah membaca cukup banyak, bahkan hal-hal omong kosong seperti bagaimana cara membunuh vampire, bukan, Dokter?”

Aku mengangguk. Kuseret langkahku menuju perapian. Besi pengorek itu terasa berat dan dingin di tanganku. Dari luar, nyanyian anjing hutan kembali terdengar bersahutan. Aku menghela napas memantapkan hati, lalu melangkah menuju kursi yang diduduki Tuan Williams, sang vampire tua yang baru saja kukenal.

Note: dibuat untuk Modul 8 dan 9 Kelas Novel Dasar Online

13 thoughts on “Sang Vampire

  1. cool …
    selalu bertanya-tanya, manusia tidak suka/takut terhadap kematian, apakah mereka siap untuk keabadian?
    it takes a certain special mentality to be an immortal😀

  2. Winschester yang mana? Dean/Sam/John/Peter? *coret yang tidak benar*:mrgreen:

    Deskripsi latarnya asik mbak, cuma saya kok ga rela ya kalo vampirnya capek dengan keabadian? *team vampire*😀

    • Iya, ipied. Itu soalnya di modul lagi bahas soal penggunaan metafora. Makanya bahasanya agak gimana gitu. Itu juga udah direvisi. Awalnya malah penuh sesak dgn metafora =))
      Makasih, ipied🙂

  3. Pingback: Wifey Got Short Stories | Kulo Tiyang Sae

  4. sesaat keabadian tampak melenakan ya… tapi saat kita menjalananinya apakah kita siap dengan segala konsekuensinya?

    segala yg mengasyikan, bila dilakukan terus menerus tentu akan membosankan….

    aaaaahhh… aku suka baca ceritamu mbaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s