#jeremy

Rumah itu hanya berdiri saja di sana. Reyot, nyaris roboh, tak lagi utuh, dan terlupakan. Sebentuk kesuraman di antara deretan hijau pepohonan. Kelabu, seakan semua warna tertarik keluar oleh sekitarnya tanpa menyisakan apapun.

Jeremy berdiri terpukau di depannya. Bagai terhipnotis, remaja itu bahkan tak peduli saat angin menyeruak kencang mengacak rambut coklatnya.

Bagaimana mungkin tempat seperti ini ada? Begitu sepi, kusam, dan sendiri?

Jendelanya yang tak berdaun menatap kosong. Angin menyelip melalui rongga dinding kayu menciptakan alunan aneh, terdengar seperti tangisan sedih di telinga Jeremy. Merasuk ke dalam tubuh, dan bergema di antara tulang-tulangnya.

Ssh, tenanglah, jangan menangis, jangan bersedih, bisik Jeremy. Perlahan ia melangkah, membawanya kian mendekat ke rumah itu.

Tangisan itu kian kencang, seakan menyemangati Jeremy untuk kian mendekat.

Jeremy mengulurkan tangan kirinya, menyentuh lembut pintu yang telah miring.

Ada aku di sini, sekarang kamu tak sendiri lagi, bisik Jeremy sambil tersenyum, sebelum melangkah dan menghilang ke dalam kegelapan rumah itu.

Di luar, angin masih mendesah kencang…

2 thoughts on “#jeremy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s