Daily Life of a Stay-at-Home Mom-to-be

  • Pagi-pagi kebangun dan bertanya-tanya ini hari pengambilan sampah atau bukan. Kalo bukan, tidur lagi. Kalo iya, bangun tertatih-tatih untuk buka pintu pager.
  • Elus-elus perut yang kedutan karena baby Peanut juga ikutan bangun.
  • Kelewatan tukang sayur pagi karena terlalu malas untuk bangkit dari kasur. Berharap tukang sayur yang agak siang jualan.
  • Mengeluh pada tukang sayur yang agak siang betapa mahalnya harga bahan makanan sekarang. Tapi tetep dibeli juga, abisnya mau gimana lagi.
  • Masak. Sarapan. Ngemil.
  • Ngurusin suami yang mau berangkat kerja.
  • Melapar lagi sebelum tengah hari. Membujuk baby Peanut supaya sabar sebentar, because I’m too sleepy to eat.
  • Menjelang tengah hari udah kriyep-kriyep. Niatnya baring-baring, eh ternyata ketiduran beneran.
  • Sore ke rumah ortu, ngobrol ini-itu, main ama keponakan.
  • Magrib pulang. Mainan hape, nonton tv, nunggu suami pulang.

Makan Enak di Wolter Bistro

Daerah Santa memang salah satu tempat ngumpulnya makanan enak. Banyak kafe, resto, atau pun warung tenda. Biar gaya, gak makan di emperan mulu, sekali-kali ngafe lah. Mampir ke Wolter Bistro. Alamatnya di Jl. Wolter Monginsidi No. 59, tepat di seberang Total Buah Segar.

Bingung mau makan apa? Kata Pak Hermansyah, owner sekaligus chef, ada beberapa menu andalan di sini: Grilled Chicken with Potato Wedges, Steak Cabe Rawit, Sop Buntut, dan Crispy Duck. Yang fenomenal sebetulnya Crispy Duck. Tau dong Bebek Tepi Sawah yang ngehits di Ubud (dan sekarang ada di Citos)? Nah Crispy Duck ini terinspirasi dari Bebek Tepi Sawah.

“Berani diadu deh rasanya,” promosi Pak Hermansyah.

Chef Herman

Malah menurut beliau, banyak orang bahkan dari jauh ke sini pingin makan bebek ini. Rahasia empuknya karena proses masaknya yang lama. Pertama-tama, bebeknya dipotong dulu (ya iya lah), setelah dibersihkan, lalu dipresto. Setelah itu dibekukan selama 2-3 hari. Yea, you read that right. Dua sampe tiga hari. Abis itu digoreng dua kali, pake api kecil lalu api besar. Baru deh bisa disajikan di piring. Karena itu, menu ini terbatas tiap harinya. Jadi siapa cepat dia dapat.

Steak cabe rawit ini rasanya beda ih

Steak cabe rawit ini rasanya beda ih

Ada juga steak cabe rawit. Bukan, bukan cabe rawit yang dibakar seperti yang awalnya saya kira (don’t imitate my stupidity, friends). Tapi steak daging sapi yang di atasnya dikasi “sambal” cabe rawit. Rasanya? Enak 😀 Kata Pak Hermansyah, menu ini didapat dari pengalaman beliau selama bekerja di Freeport. Udara yang dingin bikin sulit keringetan. Jadinya para karyawannya seneng makan yang pedes-pedes. Ditambah juga rasa bosannya terhadap saus steak yang gitu-gitu aja. Akhirnya dicoba bikin deh. Steak cabe rawit ini disajikan bareng butter rice biar makin cihuy. Cocok lah ya ama perut orang Indonesia yang gak kenyang kalo gak makan nasi. Mie instan pun dimakan ama nasi biar kenyang, ya kan?

Sop buntutnya juga diadaptasi dari sop buntut Hotel Borobudur yang beken itu. Berarti rasanya gak usah diragukan lah ya.

Grilled Chicken

Grilled Chicken with Potato Wedges

Grilled chicken-nya gurih dan empuk. Karena ini menu western, jadi pendampingnya potato wedges. Tumisan sayurannya enak, gak tau deh bumbunya apaan. Pokoknya enak 😀

Jus Janda Kembang

Jus Janda Kembang. Campuran buah naga & sirsak. Enak. Sehat pun.

 

Oiya,pemburu gratisan, lagi ada promo nih, follow sosial medianya, dapetin free kopi tarik atau kopi saring susu kalo makan di sini. Mayan kan?

Twitter: @WolterBistro | Facebook: Wolter Bistro | Path: Wolter Bistro

Korea Trip: Kuliner!

Terus terang, saya kurang selera ama makanan Korea. Selain harus ati-ati dengan ke-halal-annya, bagi saya tampilannya gak bikin ngiler tak terkendali kayak kalo lagi liat Mats Hummels. Atau mungkin saya kurang tau aja ya? Tapi ada sih beberapa makanan yang saya doyan banget, dan Insha Allah halal 😀

 

Topokki - Odeng

Odeng ini jajanan murah meriah. Satu tusuknya 500 KRW saja (sekitar 5-6 ribu rupiah). Odeng ini semacem fish cake yang direbus di kuah kaldu. Enaknya dimakan sambil dicocol ke kecap asin yang disediakan. Gampang banget ditemuinya, mulai dari pinggir jalan, pasar, rumah makan, sampe ke kantin/food court di stasiun dan pusat perbelanjaan. Kuah kaldunya itu disajikan di gelas atau mangkuk kecil, emang buat diminum setelah makan. Biasanya sih jualnya barengan ama topokki, potongan rice cake & fish cake yang dicampur pasta cabe. Di atasnya ditaburi wijen biar makin sedap. Seporsinya dihargai 2-3 ribu KRW (sekitar 20-30 ribu rupiah). Topokki ini biasanya dimakan bareng sundae. Bukan, bukan es krim sundae, tapi sosis darah babi. Tapi dipisah kok, gak dicampur dalam satu panci. Nanti kalo diminta, barulah dipotong-potong dan ditaruh di piring. Gak semua penjual odeng jual topokki, dan gak semua penjual topokki jual sundae. Favorit saya ada di pasar, penjualnya sepasang suami-istri yang ramah dan suka ngasi bonus (hohoho). Selain odeng dan topokki, mereka juga jual tempura udang, ikan, gimbap, dan cabe ijo.

Saengseon-gui

Saengseong-gui, alias ikan bakar ala Korea. Ini wajib coba. Oiya, kalo pesen makanan Korea, biasanya pendampingnya macem-macem. Mulai dari kimchi, acar, lalapan, tumisan, gorengan, sambal, dan sup. Meriah pokoknya. Makanan pendamping ini gratis dan bisa minta lagi kalo abis. Saya coba yang deket apartemen, di pinggir pantai deket Hyundai Heavy Industries, Ulsan. Harganya 8 ribu KRW per porsi. Enak, rasanya asin dan gurih. Tapi kalo udah gak panas, jadinya agak amis. Mendingan pesennya jangan satu orang satu porsi, ikannya mayan gede. Ntar kalo kurang kan tinggal tambah lagi.

Fish Soup

Sop ikan ini saya coba di restoran pinggir Haeundae Beach, Busan. Gak tau nama Korea-nya. Kuahnya bening, dan enak dimakan anget-anget pas cuaca lagi dingin. Tapi, rasanya hambar. Kurang asin, kurang pedes, kurang gurih. Hhh… Bukannya gak enak sih, tapi ya itu, nanggung bener. Seporsinya 9 ribu KRW, bisa dimakan berdua/bertiga. Kalo laper sih, makan seporsi sendiri juga gapapa. Saya mah gak nge-judge.

Chukumi

Chukumi ini yang fenomenal. Hahaha. Waktu itu kami (saya, adik saya & suaminya) iseng masuk ke restoran yang terletak tepat di belakang halte bis Ilsan Beach, Ulsan. Gak ada di antara kami yang pernah nyoba makan chukumi sebelumnya. Namanya apa juga kami baru tau setelah makan dan googling. Semua pelayannya gak ada yang bisa bahasa Inggris. Menunya pun pake hangeul, gak ada tulisan latinnya. Kami cuma liat ada gambar gurita di plang restorannya. Hohoho. Entah gimana, akhirnya kami berhasil pesen juga. Kompor di meja dinyalain, dan kami dipakein apron. Liat sana-sini kok gak ada pelanggan lain yang pake apron ya? Jangan-jangan dikerjain nih. Hahaha. Sekumpulan cewek di meja sebelah dengan baik hati ngajarin cara masaknya, walopun dengan bahasa tunjuk karena mereka gak bisa bahasa Inggris. Chukumi ini pedas. Banget. Seporsinya dihargai 11 ribu KRW.

Coffee Machine

Yang menyenangkan, di tiap rumah makan Korea biasanya disediakan kopi gratis untuk diminum setelah makan. Mesin kopi ini ditaruh di dekat pintu keluar atau dekat kasir. Karena tulisannya pake hangeul, jadi saya asal pencet aja, berdoa semoga yang keluar itu coffee cream with sugar. Karena biasanya ada 3 pilihan, black coffee, coffee cream no sugar, dan cream coffee with sugar. Selama sebulan saya di Korea, saya cuma gagal 1 kali, yay!

Korea Trip: Keliling Naik Bis

Halte Bis

Transportasi umum bisa cukup menantang kalau kita ada di tempat asing, terutama di negara lain yang tidak berbahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Di Korea, dalam hal ini di Ulsan, pun begitu. Ada sih tulisannya, tapi boro-boro tau artinya, bacanya aja gak bisa. Untungnya di Ulsan ada web Ulsan Online yang cukup lengkap memberi info soal nomor bis dan rutenya, dalam bahasa Inggris. Tapi kenyataan tak semudah di web, saya tetep aja nyasar.

Baru pertama kali naik bis, karena malu bertanya, maka saya dan adik pun tersesat di jalan. Setelah satu jam muter-muter kota, kami kelewatan halte tujuan dan malah sampai ke terminal bisnya. Hahaha. Moral of the story: walaupun gak tau pengucapannya dan pasti salah ngucapinnya, jangan malu tanya ke sopirnya soal tujuan kamu. Nanya sekali lagi juga gak papa buat memastikan. Ya kali aja sopirnya lupa.

Kalau mau naik bis di Ulsan, beli kartu Bee-Money. Ada di convenience store macem Seven Eleven atau C4U. Nanti untuk top up juga di convenience store. Saldo di kartu udah gak cukup ata cuma iseng naik bis? Bisa bayar pakai uang tunai juga kok. Harganya sedikit lebih mahal dari bayar pakai kartu (pakai kartu 1140 KRW, kalo dengan uang tunai 1200 KRW). Di halte, kita bisa lihat estimasi waktu kedatangan bis yang ditunggu. Selain itu ada info rute, dan bis nomor berapa yang lewat halte tersebut.

Pas naik bis, tempelkan kartu ke box yang biasanya ada di dekat sopir atau pintu masuk. Ada juga kotak transparan untuk tempat uang bagi yang gak punya kartu atau saldonya gak cukup. Siapin kartunya sebelum masuk bis, biar gak ganggu calon penumpang lain.

Perhatikan bangku-bangkunya. Ada bangku prioritas dengan warna berbeda. Kalau bangku lain penuh, biasanya orang cuek aja duduk di bangku prioritas, tapi kalau ada lansia, bumil, penyandang cacat, atau yang bawa anak kecil, mereka akan memberikan tempat duduknya.

Untuk berhenti, tekan tombol stop satu halte sebelumnya. Jadi sopirnya tau kalau ada yang mau turun di halte berikutnya dan ngebukain pintu belakang.

Kabar baiknya adalah, di tiap halte ada free wifi. Seru kan? 😀

What’s Your Earlier Work of Fiction?

I can’t remember at what age I started to write. Maybe in elementary school. Writing diary. Stupid diary, to be more specific. I didn’t remember much about my junior high (yea, I have a selective amnesia *eyeroll*), but I do remember my writing from high school.

The first year of it, I wrote about a boy who accidentally opened a door to the 4th dimension. The creatures from there were the worst of our nightmares. The boy could only close it if he defeated Deity, God of the Moon. And it was possible, because apparently the boy was a descendant of Apollo, God of the Sun. The battle was not to be fought alone. A vampire from the 4th dimension somehow decided to help him (back then, vampires not as sparkle and popular as now). It was a tragic happy ending. If only it was finished.

One story that finished actually a fanfiction. Still in my high school years. Silly story about Oasis vs Blur (those were the era of British Invasion). Noel was the king of Planet Oasis, with Liam as the prince. They had to overcome the rebellion of the refugees from a small planet called Blur. And because I was pro-Oasis, of course they were the winner.

My college years were filled by fanfiction. Posted two of them, here and here. You who aren’t familiar with the Japanese rock might want to skip it. Yea, I was such a big fan back then. But of course I didn’t want to write fanfiction all my life – not that it’s wrong.

I remember one day, sitting on one of McDonald’s bench in BIP, Bandung, talking to a friend. Random things to another, he asked how I saw myself in many years to come. I said, I pictured myself at a corner of a coffee shop, deep in thought or frantically typing on my laptop. I pictured my novel(s) on the shelf of bookstore. We were laughing it off. At that time, the dream seemed so far away.

Years later – in 2013 to be exact, I did have a novel on the shelf of a bookstore. A duet novel with Vanny PN, titled Sketsa Terakhir. It was one of the best moment in my life, to see my dream had embodied. I hope it’s just a beginning of a dream, not the end of it.

So, that’s my story. How about yours?

[Movie Review] Last Vegas

Last Vegas - poster

Ini kisah tentang empat orang sahabat yang telah berusia 60 taunan. Bersama-sama, mereka melarikan diri dari kesehariannya, untuk pergi ke Las Vegas, menghadiri bachelor party sekaligus pernikahan satu-satunya dari mereka yang masih single. Pernikahan yang cukup kontroversial, karena calon mempelai wanita berusia separuhnya. Perjalanan ini juga sekaligus menghidupkan kembali masa-masa kejayaan mereka, dan memperbaiki hubungan yang pernah rusak di antara mereka.

Rating film ini di Imdb.com boleh tidak mencapai 7, apalagi Metascore-nya. Tapi terkadang untuk menikmati sebuah film, saya gak butuh angka tinggi. Bagi saya, film ini sangat menghibur. Dialognya lucu dan cukup cerdas, tanpa kesan berat. Mereka punya nama panggilan bodoh-bodohan yang hanya boleh dipakai mereka. Like a boss, kakek-kakek ini juga mencoba keep up dengan apa yang menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Saya suka ide bahwa persahabatan yang baik gak butuh kuantitas kontak yang sering, karena yang penting adalah kualitas. And boys will still be boys, no matter how old they are.

Pemain: Michael Douglas, Robert De Niro, Morgan Freeman, Kevin Kline
Tahun Rilis: 2013
Gambar diambil dari specevents.net