What’s Your Earlier Work of Fiction?

I can’t remember at what age I started to write. Maybe in elementary school. Writing diary. Stupid diary, to be more specific. I didn’t remember much about my junior high (yea, I have a selective amnesia *eyeroll*), but I do remember my writing from high school.

The first year of it, I wrote about a boy who accidentally opened a door to the 4th dimension. The creatures from there were the worst of our nightmares. The boy could only close it if he defeated Deity, God of the Moon. And it was possible, because apparently the boy was a descendant of Apollo, God of the Sun. The battle was not to be fought alone. A vampire from the 4th dimension somehow decided to help him (back then, vampires not as sparkle and popular as now). It was a tragic happy ending. If only it was finished.

One story that finished actually a fanfiction. Still in my high school years. Silly story about Oasis vs Blur (those were the era of British Invasion). Noel was the king of Planet Oasis, with Liam as the prince. They had to overcome the rebellion of the refugees from a small planet called Blur. And because I was pro-Oasis, of course they were the winner.

My college years were filled by fanfiction. Posted two of them, here and here. You who aren’t familiar with the Japanese rock might want to skip it. Yea, I was such a big fan back then. But of course I didn’t want to write fanfiction all my life – not that it’s wrong.

I remember one day, sitting on one of McDonald’s bench in BIP, Bandung, talking to a friend. Random things to another, he asked how I saw myself in many years to come. I said, I pictured myself at a corner of a coffee shop, deep in thought or frantically typing on my laptop. I pictured my novel(s) on the shelf of bookstore. We were laughing it off. At that time, the dream seemed so far away.

Years later – in 2013 to be exact, I did have a novel on the shelf of a bookstore. A duet novel with Vanny PN, titled Sketsa Terakhir. It was one of the best moment in my life, to see my dream had embodied. I hope it’s just a beginning of a dream, not the end of it.

So, that’s my story. How about yours?

Tentang Mesin Waktu

*postingan ini bukan iklan & tidak berbayar*

I found a time machine in a place called Shisha Kafe in Kemang.

Baru duduk, minum, dan cemal-cemil dikit, pas liat jam, tau-tau udah sejam berlalu aja. Trus nge-shisha sambil ngobrol, lewat sejam-dua jam lagi. Ga ada tuh yang namanya sebentar aja di situ. Minimal dua jam, itu pun berasanya kayak baru sejam.

Cahayanya temaram, tempatnya nyaman, soundproof pula. Jadi mo di luar macet plus berisik ama suara klakson atau pun ujan deres, di dalem mah leyeh-leyeh aja. Walopun smoking area, tapi tempat itu ga pernah terasa sesak ama asap rokok. Kalo asap shisha kan ga bikin sesak dan ngilang gitu aja setelah dihembuskan.

Saya percaya, mesin waktu lainnya banyak tersebar di mana-mana. Kebetulan aja yang saya temuin ya di sini. This is my time machine, so where’s yours?

No Rain

Beberapa waktu lalu, sempat sedikit krisis identitas. U know lah, kadang ada masa-masanya gitu kan? Eh iya kan? Bukan saya doang yang gini kan? Di tengah-tengah kegalauan itu, kok ya pas banget mengalun lagu No Rain-nya Blind Melon. Iya, lagu jadul yang masih oke aja didenger sekarang itu. Meresapi kata demi katanya. Then i feel this song is pretty much represented what i feel. So here’s the lyric and get to know me better (eh apa gunanya ya?)

All I can say is that my life is pretty plain
I like watchin’ the puddles gather rain
And all I can do is just pour some tea for two
and speak my point of view
But it’s not sane, It’s not sane

I just want some one to say to me
I’ll always be there when you wake
Ya know I’d like to keep my cheeks dry today
So stay with me and I’ll have it made

And I don’t understand why I sleep all day
And I start to complain that there’s no rain
And all I can do is read a book to stay awake
And it rips my life away, but it’s a great escape
escape…escape…escape…
All I can say is that my life is pretty plain
ya don’t like my point of view
ya think I’m insane
Its not sane…it’s not sane.

Dewa Inspirasi, Di Manakah Kau Berada?

Aside

Image

Gackt, dewa inspirasi saya. Ahaha, ini kan ceritanya!

Di kantor saya, tiap Jumat diadakan kegiatan hiburan yang sifatnya berbagi hal-hal menyenangkan dan inspiratif atau memotivasi. Jumat minggu lalu, video pendek yang diputar bikin saya ngejedang. Video Elizabeth Gilbert saat dia berbicara di ajang TEDx. I’m not a fan of her, nor a hater. I just don’t read her book nor watch the movie. Saya merangkum pembicaraannya dalam bahasa dan penangkapan saya sendiri bagi mereka yang males atau tidak sempat menonton videonya, atau semata-mata ingin baca tulisan saya 😀

Anyway, dia berbicara tentang momen inspirasi yang biasanya terjadi di orang-orang kreatif. Orang-orang ini biasanya dianggap memiliki tingkat stress yang lebih tinggi dibanding orang kebanyakan. Mengapa? Karena dianggap sebagai orang kreatif, mereka dianggap mampu untuk menghasilkan sesuatu yang tidak biasa. Dan jika ekspektasi itu tidak terpenuhi, mereka dianggap gagal. Tekanan ini akan semakin besar, jika orang kreatif tersebut telah menghasilkan sebuah mahakarya. Maka masyarakat akan menanti-nanti karya berikutnya, dan membandingkannya dengan mahakaryanya itu. Karena itu tidak jarang seorang insan kreatif hanya menghasilkan satu mahakarya yang membuat dia dikenal, lalu tidak ada karya lainnya.

Elizabeth Gilbert pun mengalami hal seperti ini. Buku Eat, Pray, Love-nya meledak di pasaran dunia. Best seller dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Menurutnya, hampir setiap orang yang bertemu dengannya, menanyakan apa karya berikutnya? Apakah dia tidak takut buku berikutnya tidak sefenomenal Eat, Pray, Love? Bahkan dia telah dihadapkan oleh pertanyaan semacam itu saat dia memutuskan untuk menjadi penulis. “Kamu tidak takut untuk menjadi penulis? Yakin dengan itu kebutuhanmu bisa tercukupi? Yakin kamu akan menjadi penulis handal?”. Kalau menyangkut pekerjaan/profesi, ga ada yang mempertanyakan seorang engineer misalnya, apakah dia yakin mau menjadi seorang engineer, apakah dia yakin menjadi seorang engineer bisa mencukupi kebutuhannya.

Gilbert pun berkisah, di masa lalu, jaman para filsuf dan seniman Yunani-Romawi berjaya, kreativitas tidak dianggap berasal dari buah pikiran masing-masing individu. Kreativitas merupakan satu entitas lain yang memilih untuk mendekat dan hinggap pada orang tertentu. Individu tersebut hanyalah semacam vessel, alat untuk melahirkan hasil kreativitas tersebut. Jika berhasil, maka pujian tidak sepenuhnya diterima dengan jumawa oleh si seniman, karena itu bukan murni karyanya. Sebaliknya, jika gagal, maka seniman tersebut tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena toh itu berarti dewa kreativitas yang menghinggapinya lagi bodoh aja.

Walaupun terkesan aneh dan lucu, tapi pemikiran seperti ini menyelamatkan. Tekanan sosial pada para seniman dan orang-orang kreatif lainnya tidak terlalu menyesakkan. Orang bisa berkarya dengan bebas, tanpa deadline yang mengharuskan dia menghasilkan suatu karya dalam waktu tertentu.

Berbicara tentang momen inspiratif (saya lupa apa istilahnya untuk ini, nanti kalo udah ketemu, saya update deh), Gilbert bercerita tentang inspirasi atau ide yang suka datang mendadak dan macam-macam cara orang menghadapinya. Bagi temannya yang seorang poet, ide datang ibarat gemuruh geluduk yang kian mendekat. Dia akan meninggalkan semua yang dikerjakannya, untuk berlari dan mengambil alat tulis. Karena jika dia tidak buru-buru, maka gulungan ide tersebut akan pergi melewatinya begitu saja untuk mencari orang lain yang bisa mewujudkannya dalam tulisan.

Gilbert juga berkisah tentang temannya yang seorang musisi. Suatu hari, saat sedang menyetir mobil, sebuah melodi terus-terusan terngiang di kepalanya. Dia tidak bisa langsung mengabadikannya karena dia tidak bawa alat tulis ataupun alat perekam. Jadi yang dia lakukan adalah, menatap langit & berseru, “Can’t u see I’m driving? Go get someone else to bother!”

Jadi dari cerita Gilbert tersebut, ada 2 tipe orang saat menghadapi ide yang datang mendadak. Yang pertama, meninggalkan semua untuk menangkapnya, dan yang kedua, mengatur sendiri kapan dia mau ide untuk menghampirinya.

Gilbert pun sempat mengalami writer’s block saat menulis Eat, Pray, Love. Saat itu, dia teringat kisah filsuf/seniman Yunani dan juga kisah teman-temannya. Dia lalu menoleh ke sudut kosong ruangannya, lalu bilang, “I’ve done my part, I did my best. Now it’s your turn.”

Salah satu dari 20 menit paling menyenangkan yang saya lalui. And yea, saya pun bersemangat kembali untuk menulis. Emang sih belum nulis fiksi/fantasi—atau ngelanjutin ide novel yang udah mandeg setaun—suatu hal yang sangat saya gemari, karena dewa inspirasi lagi males mampir ke rumah saya. But hey, setidaknya saya nulis ini kan? ^^

The Air

He’s simply the air. Always around, though often you don’t notice. But when he left, you feel something missing.

He’s the warm feeling like when you get when you curl up on bed under a blanket  in the cold night.

He’s the cool breeze that you get when you turn on the air-con on a hot summer mid-day.

He’s simply the air.

And I’m so grateful that he’s mine…

 

[13-10-10.. Happy birthday, hun..]