Korea Trip: Kuliner!

Terus terang, saya kurang selera ama makanan Korea. Selain harus ati-ati dengan ke-halal-annya, bagi saya tampilannya gak bikin ngiler tak terkendali kayak kalo lagi liat Mats Hummels. Atau mungkin saya kurang tau aja ya? Tapi ada sih beberapa makanan yang saya doyan banget, dan Insha Allah halal 😀

 

Topokki - Odeng

Odeng ini jajanan murah meriah. Satu tusuknya 500 KRW saja (sekitar 5-6 ribu rupiah). Odeng ini semacem fish cake yang direbus di kuah kaldu. Enaknya dimakan sambil dicocol ke kecap asin yang disediakan. Gampang banget ditemuinya, mulai dari pinggir jalan, pasar, rumah makan, sampe ke kantin/food court di stasiun dan pusat perbelanjaan. Kuah kaldunya itu disajikan di gelas atau mangkuk kecil, emang buat diminum setelah makan. Biasanya sih jualnya barengan ama topokki, potongan rice cake & fish cake yang dicampur pasta cabe. Di atasnya ditaburi wijen biar makin sedap. Seporsinya dihargai 2-3 ribu KRW (sekitar 20-30 ribu rupiah). Topokki ini biasanya dimakan bareng sundae. Bukan, bukan es krim sundae, tapi sosis darah babi. Tapi dipisah kok, gak dicampur dalam satu panci. Nanti kalo diminta, barulah dipotong-potong dan ditaruh di piring. Gak semua penjual odeng jual topokki, dan gak semua penjual topokki jual sundae. Favorit saya ada di pasar, penjualnya sepasang suami-istri yang ramah dan suka ngasi bonus (hohoho). Selain odeng dan topokki, mereka juga jual tempura udang, ikan, gimbap, dan cabe ijo.

Saengseon-gui

Saengseong-gui, alias ikan bakar ala Korea. Ini wajib coba. Oiya, kalo pesen makanan Korea, biasanya pendampingnya macem-macem. Mulai dari kimchi, acar, lalapan, tumisan, gorengan, sambal, dan sup. Meriah pokoknya. Makanan pendamping ini gratis dan bisa minta lagi kalo abis. Saya coba yang deket apartemen, di pinggir pantai deket Hyundai Heavy Industries, Ulsan. Harganya 8 ribu KRW per porsi. Enak, rasanya asin dan gurih. Tapi kalo udah gak panas, jadinya agak amis. Mendingan pesennya jangan satu orang satu porsi, ikannya mayan gede. Ntar kalo kurang kan tinggal tambah lagi.

Fish Soup

Sop ikan ini saya coba di restoran pinggir Haeundae Beach, Busan. Gak tau nama Korea-nya. Kuahnya bening, dan enak dimakan anget-anget pas cuaca lagi dingin. Tapi, rasanya hambar. Kurang asin, kurang pedes, kurang gurih. Hhh… Bukannya gak enak sih, tapi ya itu, nanggung bener. Seporsinya 9 ribu KRW, bisa dimakan berdua/bertiga. Kalo laper sih, makan seporsi sendiri juga gapapa. Saya mah gak nge-judge.

Chukumi

Chukumi ini yang fenomenal. Hahaha. Waktu itu kami (saya, adik saya & suaminya) iseng masuk ke restoran yang terletak tepat di belakang halte bis Ilsan Beach, Ulsan. Gak ada di antara kami yang pernah nyoba makan chukumi sebelumnya. Namanya apa juga kami baru tau setelah makan dan googling. Semua pelayannya gak ada yang bisa bahasa Inggris. Menunya pun pake hangeul, gak ada tulisan latinnya. Kami cuma liat ada gambar gurita di plang restorannya. Hohoho. Entah gimana, akhirnya kami berhasil pesen juga. Kompor di meja dinyalain, dan kami dipakein apron. Liat sana-sini kok gak ada pelanggan lain yang pake apron ya? Jangan-jangan dikerjain nih. Hahaha. Sekumpulan cewek di meja sebelah dengan baik hati ngajarin cara masaknya, walopun dengan bahasa tunjuk karena mereka gak bisa bahasa Inggris. Chukumi ini pedas. Banget. Seporsinya dihargai 11 ribu KRW.

Coffee Machine

Yang menyenangkan, di tiap rumah makan Korea biasanya disediakan kopi gratis untuk diminum setelah makan. Mesin kopi ini ditaruh di dekat pintu keluar atau dekat kasir. Karena tulisannya pake hangeul, jadi saya asal pencet aja, berdoa semoga yang keluar itu coffee cream with sugar. Karena biasanya ada 3 pilihan, black coffee, coffee cream no sugar, dan cream coffee with sugar. Selama sebulan saya di Korea, saya cuma gagal 1 kali, yay!

Korea Trip: Keliling Naik Bis

Halte Bis

Transportasi umum bisa cukup menantang kalau kita ada di tempat asing, terutama di negara lain yang tidak berbahasa Inggris apalagi bahasa Indonesia. Di Korea, dalam hal ini di Ulsan, pun begitu. Ada sih tulisannya, tapi boro-boro tau artinya, bacanya aja gak bisa. Untungnya di Ulsan ada web Ulsan Online yang cukup lengkap memberi info soal nomor bis dan rutenya, dalam bahasa Inggris. Tapi kenyataan tak semudah di web, saya tetep aja nyasar.

Baru pertama kali naik bis, karena malu bertanya, maka saya dan adik pun tersesat di jalan. Setelah satu jam muter-muter kota, kami kelewatan halte tujuan dan malah sampai ke terminal bisnya. Hahaha. Moral of the story: walaupun gak tau pengucapannya dan pasti salah ngucapinnya, jangan malu tanya ke sopirnya soal tujuan kamu. Nanya sekali lagi juga gak papa buat memastikan. Ya kali aja sopirnya lupa.

Kalau mau naik bis di Ulsan, beli kartu Bee-Money. Ada di convenience store macem Seven Eleven atau C4U. Nanti untuk top up juga di convenience store. Saldo di kartu udah gak cukup ata cuma iseng naik bis? Bisa bayar pakai uang tunai juga kok. Harganya sedikit lebih mahal dari bayar pakai kartu (pakai kartu 1140 KRW, kalo dengan uang tunai 1200 KRW). Di halte, kita bisa lihat estimasi waktu kedatangan bis yang ditunggu. Selain itu ada info rute, dan bis nomor berapa yang lewat halte tersebut.

Pas naik bis, tempelkan kartu ke box yang biasanya ada di dekat sopir atau pintu masuk. Ada juga kotak transparan untuk tempat uang bagi yang gak punya kartu atau saldonya gak cukup. Siapin kartunya sebelum masuk bis, biar gak ganggu calon penumpang lain.

Perhatikan bangku-bangkunya. Ada bangku prioritas dengan warna berbeda. Kalau bangku lain penuh, biasanya orang cuek aja duduk di bangku prioritas, tapi kalau ada lansia, bumil, penyandang cacat, atau yang bawa anak kecil, mereka akan memberikan tempat duduknya.

Untuk berhenti, tekan tombol stop satu halte sebelumnya. Jadi sopirnya tau kalau ada yang mau turun di halte berikutnya dan ngebukain pintu belakang.

Kabar baiknya adalah, di tiap halte ada free wifi. Seru kan? 😀